06 Januari 2009

NONTON PAK ENGGOT BERAKSI


Lelaki paruh baya itu selalu bertelanjang dada, memperlihatkan tubuhnya yang kekar dan sehat. Celana hitam kolor selutut menemaninya saat beraksi. Jenggot tipis yang tumbuh didagunya kelihatan terpaksa untuk dipelihara guna mempertahankan citranya. Di kalangan yang dibikinnya hanya dengan menggarisi tanah dengan ujung bambu kecil, terdapat sebuah batu kali sebesar dua kali kepala orang dewasa diikat dengan seutas tali rami melekat pada sebatang kayu setinggi 50 cm. Anehnya, batu yang diikat ke kayu tadi tidak roboh meski hanya diberdirikan tanpa ditanam. Selembar plastik dihamparkan untuk menaruh alat-alat atraksinya, gambar-gambar wanita yang sedikit seronok, bukusan hitam, dan tentu saja jamu ramuan yang "dasyat" kasiatnya. 

Tiba-tiba... "Dheeer", lelaki paruh baya itu berteriak sambil memukulkan alu (alat penumbuk) besi sepanjang kurang lebih 50 cm ke perutnya sendiri. Adegan ini diulang beberapa kali untuk menarik perhatian orang yang lalu lalang untuk menontonnya. Dialah Pak Enggot, bakul jamu yang menggunakan atraksi-atraksi sulap untuk memasarkan jamunya berupa butiran-butiran hitam yang dipromosikan sebagai jamu yang dapat mengobati penyakit yang diderita kaum adam : encok, pegel linu, lemah syahwat dan lainnya.

Tidak jelas siapa nama sebenarnya Pak Enggot, tapi nama itu telah menjadi trade-mark bagi dirinya. Pak Enggot seingat saya tinggal di daerah Banjaran, Jl. Halim Perdanakusuma. Dengan gayanya yang unik tak pelak banyak orang yang menunggu aksi-aksi Pak Enggot di depan lapangan Setonobetek yang waktu itu digunakan sebagai pasar sepeda atau orang Kediri lebih akrab menyebut kawasan ini sebagai PDS. Dibawah rerimbunan pohon waru yang banyak tumbuh di PDS, Pak Enggot menggelar arenanya yang selalu dijubeli oleh para penggemarnya.

Tanpa penggeras suara, suara Pak Enggot sudah membahana, dengan guyonan-guyonan yang segar dan sedikit porno dia begitu fasih menerangkan jamu mujarab bikinannya. Tapi bagi anak-anak yang ditunggu adalah atraksi-atraksi sulapnya. Bukusan hitam lalu dibukanya, ular sanca yang lumayan besar ditariknya dan dililitkan ke tubuhnya. Atraksi lalu dilanjutkan dengan memotong mentimun di perutnya dengan sebuah golok yang tajam. Permainkan sulap kartu juga menjadi andalannya, selain pamer kekebalan dari benda-benda tajam. Tapi semuanya selalu diselingi dengan iklan pariwaranya, jamu penuh khasiat bagi para lelaki.

"Dheeer" berulang kali membahana, Pak Enggot memukul-mukul perutnya dengan alu besi berulang kali tapi kali ini dia berdiri diatas batu yang diikat ke sepotong kayu tadi dan batu itu pun tetap tidak roboh. "Houdini dari Banjaran" ini lalu melemparkan alu tadi ke tanah, terdengan suara "glebuk" yang keras, dia menunjukan bahwa alu itu benar-benar berat. Lalu bicara lagi tentang jamunya yang bisa membuat pria perkasa, banyak juga para penonton yang membeli. Sambil melayani pembeli Pak Enggot terus bicara tentang kandungan jamu buatnnya. Kadang-kadang foto-foto wanita yang sedikit seronok diperlihatkan ke penonton untuk memancing "fantasi" para penonton agar membeli jamunya. 

Di hari-hari tertentu, biasanya tanggal muda atau hari minggu, Pak Enggot tampil dengan "full team" bersama anak-anaknya dan binatangnya pun bertambah. Maka atraksinya bisa lebih banyak lagi karena anak-anaknya juga ahli akrobat. Atraksi manusia karet yang begitu lentur keluar masuk tong yang sempit, atraksi kera yang pintar dan lainnya dipertontonkan. Sehingga penontonpun semakin berjubel termasuk anak-anak. Wah, tentu saja di hari-hari tertentu tersebut dagangan jamu Pak Enggot semakin laris. 

"Dheeer" suara itulah yang selalu diingat orang tentang Pak Enggot di era 80-an. Ditengah minimnya hiburan bagi anak-anak di jaman itu, kehadiran Pak Enggot menjadi sebuah hiburan yang menyegarkan dan selalu ditunggu. Hiburan yang murah meriah, karena memang gratis. 

05 Januari 2009

LOMBOK BENCE


Sampai akhir era 90-an masyarakat Kota Kediri masih mengenal dan bisa merasakan lombok (cabe rawit) Bence. Nama lombok ini merujuk pada asal lombok ini yaitu Dusun Bence, Pakunden Kecamatan Pesantren Kota Kediri. Lombok Bence memiliki keunggulan-keunggulan yang tidak dimiliki oleh jenis lombok lain. Selain rasanya lebih pedas, lombok Bence dikenal tahan lama dan tidak mudah busuk. Karena keunggulannya ini lombok Bence harganya lebih mahal dibanding harga lombok-lombok lain yang berasal dari berbagai daerah.

Tidak diketahui secara pasti mengapa lombok Bence memiliki rasa yang lebih pedas dan tidak mudah busuk. Banyak orang beranggapan hal tersebut karena faktor tanahnya, meskipun bibit lomboknya sama tapi kalau ditanam di kawasan Bence hasilnya pasti menjadi "lombok" Bence yang pedas dan tahan lama. Memang kalau kita mencermati beberapa kawasan di Kediri ada daerah-daerah yang memiliki keunggulan tertentu bila ditanami tanaman tertentu pula. Seperti daerah Plosoklaten yang sangat bagus bila ditanami tebu, sehingga tidak heran sejak jalam Belanda dulu daerah Plosoklaten menjadi sentra penghasil tebu unggulan. Atau daerah Ngancar dan Kandat yang menghasilkan nanas kualitas unggul.


Namun sejak tahun 2000-an komuditas lombok Bence sudah tidak dapat ditemukan lagi di pasaran. Bukan karena petaninya yang malas menanam jenis lombok ini tetapi lahan yang digunakan sebagian besar telah berubah fungsi. Lahan tersebut masuk dalam kawasan yang strategis, jalan utama yang menghubungkan Kediri dengan Blitar. Sebagian besar lahan tersebut adalah tanah kas desa Desa Pakunden. Karena letaknya yang strategis dan kepentinga-kepentingan ekonomi yang lebih mengedepan maka lahan lombok Bence "dikorbankan" untuk pembangunan perumahan. Maka sekarang kita tidak lagi kenal dan tidak lagi bisa menikmati pedasnya lombok Bence.

04 Januari 2009

JEJAK SUDIRMAN YANG TERJUAL



Bangsa Indonesia tentu tidak dapat melupakan sikap heroik-pratiotik Pangliman Besar Jenderal Sudirman dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dengan segala kelemahan fisik yang diderita, Pak Dirman melancarkan perang gerilya untuk membuktikan bahwa TNI masih eksis dan perlawanan rakyat semesta yang digalangnya adalah bukti nyata bahwa Indonesia merdeka adalah cita-cita bersama seluruh rakyat Indonesia. Di tengah kondisi sulit karena semua pimpinan negara ditangkap oleh Belanda dan Ibukota Indonesia (Yogyakarta) waktu itu sudah dikuasai Belanda, Pak Dirman pantang surut langkah untuk terus melakukan perlawanan nyata terhadap Belanda.


Jenderal Besar ini dilahirkan pada tanggal 24 Januari 1916 di Bodas Karangjati Purbalingga dari pasangan Karsid Kartowirodji yang merupakan seorang pekerja di Pabrik Gula Kalibagor, dan Siyem istrinya yang merupakan keturunan Wedana Rembang. Sejak usia 8 bulan Soedirman kecil diangkat anak oleh R. Tjokrosoenaryo, yang masih merupakan saudara Siyem.

Pada tahun 1923-1930 Pak Dirman menerima pendidikan dasar di sekolah HIS di Cilacap, kemudian dilanjutkan ke sekolah MULO Taman Siswa, dan setahun kemudian pindah ke Perguruan Parama Wiworotomo dan pada tahun 1935 melanjutkan pendidikan ke sekolah HIK (sekolah Guru) Muhammadiyah di Solo meskipun tidak sampai tamat. Setelah itu Pak Dirman diangkat sebagai Kepala SD Muhammadiyah di Cilacap.

Sejak muda Sudirman memang seorang yang berkepribadian teguh dan memegang kuat prinsip dan keyakinannya. Pernah suatu kali dalam sebuah kegiatan Perkemahan Hisbul Wathon di pegunungan Dieng, karena malam yang begitu dingin sampai menusuk tulang, banyak dari rekan beliau meninggalkan perkemahan. Namun tidak dengan Sudirman muda, karena sebagai pemimpin kepanduan maka Sudirman bertahan pada malam itu sampai esok paginya

Karir militer Pak Dirman dimulai saat Jepang masuk ke Indonesia. Pak Dirman mengikuti pelatihan perwira tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor. Kemudian diangkat menjadi Kepala Batalyon di Banyumas. Saat memegang jabatan itu Pak Dirman seringkali memprotes tindakan tentara Jepang yang seringkali berbuat sewenang-wenang dan kasar terhadap anak buahnya. Karena sikapnya itu, pernah suatu kali dia hampir dibunuh oleh tentara Jepang.

Jasa pertamanya sebagai tentara pasca kemerdekaan Indonesia adalah berhasil merebut senjata Jepang tanpa pertumpahan darah di Banyumas. Ini berkat kearifan Pak Dirman dalam berunding. Selain itu beliau juga memberikan jaminan perlindungan kepada bekas tentara Jepang yang menunggu untuk kembali ke negaranya. Setelah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dibentuk, Pak Dirman diangkat menjadi Panglima Divisi V/Banyumas dengan pangkat Kolonel. Kemudian melalui Konferensi TKR tanggal 26 Nopember 1945, ia terpilih menjadi Panglima Besar TKR/Panglima Angkatan Perang Republik Indonesia. Selanjutnya pada tanggal 18 Desember 1945, pangkat Jenderal diberikan padanya lewat pelantikan Presiden.

Pada tanggal 26 November 1945 saat menunggu masa pelantikannya sebagai Panglima, Pak Dirman menghadapi serbuan tentara Inggris yang diboncengi Belanda dari Semarang. Beliau memimpin pasukan dan balik melawan Tentara Inggris yang waktu itu sudah menduduki Kota Ambarawa. Serangan umum ke Ambarawa pun dilakukan serentak di semua sektor, menjelang fajar 12 Desember 1945. Komando penyerangan disampaikan dengan isyarat tembakan pistol.

Baru pada tanggal 15 Desember 1945, pasukan Indonesia berhasil merebut Ambarawa dari tangan sekutu. Hal itu tentu tidak lepas dari koordinasi rapi antarkomandan sektor, dan juga tidak ketinggalan siasat jitu rancangan Panglima Sudirman dari Magelang. Pertempuran yang bersejarah ini sering kita kenal sebagai Palagan Ambarawa.

Saat Agresi Militer II dilancarkan Belanda di Yogya tanggal 18 September 1948, Jenderal Sudirman yang saat itu di Yogya sedang sakit. Keadaannya sangat lemah karena paru-parunya hanya tinggal satu yang berfungsi. Namun hal itu tidak membuat langkahnya surut. Meskipun Yogya sudah dikuasai Belanda dan meskipun Presiden Soekarno, sebelum ditawan Belanda, sudah menganjurkannya untuk tetap tinggal dalam kota untuk menjalani perawatan namun anjuran itu tidak bisa dipenuhinya karena dorongan hatinya untuk melakukan perlawanan pada Belanda serta mengingat akan tanggungjawabnya sebagai pemimpin tentara.

Jenderal besar kita ini langsung bertolak ke Kediri. Dari kota itulah perlawanan akan diatur. Dengan kawalan pasukan kecil dan tanpa bekal uang dari pemerintah, rombongan Jenderal Soedirman tiba di Kediri tanggal 23 Desember 1948, setelah melalui Grogol, Wonogiri, Jetis (Ponorogo), dan Bendo (Trenggalek),”

Bersama Komandan Divisi I Jawa Timur, Kolonel Soengkono, ia membicarakan situasi militer dan rencana pertahanan melawan serbuan Belanda dengan perang gerilya. Pada 25 Desember 1948, Sudirman meninggalkan Kota Kediri. Beberapa jam kemudian, kota ini diserang dan diduduki tentara Belanda. Sepertinya mata-mata Belanda mengetahui Jenderal Sudirman berada di Kediri. Tetapi ketika tentara Belanda dikerahkan masuk kota, Jenderal Sudirman sudah berada di lereng Gunung Wilis.

Usaha menghabisi Panglima juga terjadi desa Karangnongko (10 km barat Kota Kediri). Ketika rombongan sedang beristirahat di desa itu, datanglah seseorang tak dikenal mencari Jenderal Sudirman. Karena curiga, Sudirman dan Kolonel Bambang Soepeno meninggalkan rumah penginapan pada pukul 05.00, dan masuk ke dalam hutan dengan berjalan kaki.

Setelah fajar menyingsing, Letnan Heru Keser, pengawal yang masih tinggal di rumah penginapan, menyamar menjadi Sudirman. Kemudian dengan disaksikan orang banyak, "Sudirman" gadungan ini ditandu ke luar rumah menuju selatan dan berhenti di sebuah rumah untuk menginap. Kemudian dengan diam-diam Letnan Heru Keser, sudah berganti pakaian, meninggalkan rumah itu bersama Kapten Soepardjo. Sorenya, rumah itu diserang habis-habisan oleh tiga pesawat pemburu Belanda yang memuntahkan peluru senapan mesinnya secara bergantian.

Sudah berkali-kali percobaan pembunuhan dilakukan kepada Jenderal Besar kita yang satu ini. Namun Tuhan masih mentakdirkannya untuk hidup dan terus melawan Belanda. Tanggal 31 Maret 1949, rombongan Panglima tiba di Dukuh Sobo. Karena daerah itu jarang dikenal maka daerah itu menjadi tempat yang paling ideal untuk memimpin perang gerilya.

Setelah ditandatanginya perjanjian Roem-Royen. Maka usai sudah perang antara Republik Indonesia dan Belanda. Panglima Sudirman memasuki kota Yogya lagi dari desa Ponjong tanggal 9 Juli 1949, setelah berfoto bersama dengan pembawa tandu terakhir yang dipakai menyeberangi Kali Opak dekat Piyungan.

Tanggal 27 Desember 1949, pemerintah Belanda secara resmi menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia. Sayang, Jenderal Sudirman tidak dapat menyaksikan hasil perjuangannya lebih lanjut. TBC yang semakin menggerogoti paru-parunya selama berbulan-bulan masuk keluar hutan akhirnya mengalahkan dia. Pada 29 Januari 1950, Pak Dirman meninggal dunia di Rumah Peristirahatan Tentara Badakan, Magelang. Pahlawan Kemerdekaan Nasional ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

Begitu gigih dan tanpa pamrih Pak Dirman mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam kondisi sakit parah Pak Dirman berangkat ke Kediri berjalan kaki menyusuri medan yang berat hanya untuk mengatur strategi perang gerilya dari Kediri. Ada sebuah rumah di Kediri yang menjadi saksi bisu sejarah pengaturan startegi perang gerilya untuk membuktikan eksistensi Indonesia merdeka. Rumah itu terletak di Jl. MH. Thamrin No. 45 Kediri. Rumah kuno tersebut selain untuk merundingkan strategi perang gerilya juga digunakan Pak Dirman menginap selama di Kediri.

Dulu saat gerak jalan tradisional Napak Tilas Rute Gerilya Pangsar Sudirman Kediri - Bajulan aktif digelar, biasanya rumah tersebut selalu dilewati rombongan peserta. Saya kebetulan pernah tiga kali ikut gerak jalan ini sekitar awal-awal tahun 80-an, suasana begitu heroik, ada semangat nasionalisme yang membara di dada. Sambil menyanyi lagu-lagu perjuangan dan menengok rumah yang pernah disinggahi Pak Dirman serasa melihat Pak Dirman tersenyum, bangga.

Namun sayang, rumah tersebut telah dijual oleh ahli waris pemiliknya sekitar tahun 2003. Kemudian rumah tersebut berubah fungsi menjadi kantor distributor tepung. Saya tidak tahu apakah perabotan yang digunakan Pak Dirman selama singgah di rumah itu untuk mengatur strategi perang gerilya masih ada atau sudah tercerai berai. Saat isu mulai merebak soal penjualan rumah tersebut, banyak kalangan masyarakat yang mendorong Pemkot Kediri untuk membelinya. Namun karena alasan keuangan yang tidak teranggarkan akhirnya rumah tersebut dibeli seorang pengusaha dan telah berubah fungsi. Padahal saat itu anggaran untuk Persik saja sudah mencapai puluhan milyar rupiah, jauh diatas harga rumah jejak Sudirman di Kediri.

Saya sendiri tidak paham dengan "mindset" pemerintah daerah di berbagai daerah yang begitu tidak peduli dengan hal-hal yang berkaitan dengan sejarah dan kebudayaan. Rumah jejak Sudirman di Kediri bisa menjadi contoh tidak pedulinya pemerintah daerah terhadap rumah bersejarah yang ikut membentuk eksistensi Indonesia. Kepentingan-kepentingan yang bersifat bisnis dan ekonomi sering kali mengalahkan kepentingan-kepentingan yang lebih dalam nilainya, termasuk sejarah dan kebudayaan. Bagaimana rasa nasionalisme bisa dikembangkan kalau pemerintah sendiri begitu gampang "menghapus" bukti-bukti sejarah yang dapat digunakan sebagai wahana memupuk nasionalisme? Mungkin Pak Dirman akan menangis "nelangsa" bila melihat hal ini.


03 Januari 2009

NAMA-NAMA YANG TERLEWATKAN


Saat jalur bus jurusan Kediri - Surabaya masih lewat tengah kota sering orang Kediri berkata : "Nyegat bis nang Marhen ae, ben cepet" (Nunggu bis di Marhaen saja, biar cepat - Ind). Bagi warga Kota Kediri tahun 60-an sampai tahun 70-an tentu tidak asing lagi dengan nama kawasan yang disebut "Marhaen", tapi kalau ditanyakan kepada generasi saat ini tentu mereka bingung dimana kawasan "Marhaen" itu. Tahukah Anda dimana kawasan yang disebut "Marhaen"? Banyak nama-nama kawasan di Kota Kediri yang mulai pudar dari memori masyarakat Kota Kediri bahkan sekarang terjadi perubahan penyebutan kawasan akibat terjadinya perubahan fungsi kawasan tersebut. Untuk sekedar mengingatkan kembali kawasan-kawasan yang pernah "moncer" di Kota Kediri, penulis mencoba untuk mengingat-ingat kembali memori yang sayang untuk dilupakan.

Marhaen

Kawasan ini ada di Jl. Mayjend. Sungkono ujung selatan, sebelah barat jalan. Tepatnya kawasan di pinggir Sungai Brantas, depan GNI agak ke selatan. Dulu di tempat ini ada warung yang cukup terkenal bernama "Warung Marhaen". Karena dulu bus jurusan Kediri - Surabaya rutenya melewati Jl. Panglima Sudirman - Jl. YOS Sudarso - Jl. Mayjend Sungkono - terus ke utara maka orang lebih senang menunggu bus di kawasan "Marhaen" ini, karena bus tidak "ngetem" lagi dan langsung melaju ke Surabaya. Selain itu, menunggu bus di "Marhaen" bisa melihat pemandangan Sungai Brantas dan Gunung Klotok secara langsung sambil menikmati kopi di Warung Marhaen. Sayang, sekarang warungnya sudah tidak ada lagi.

Prapatan Reco Pentung

Kawasan ini ada di ujung timur Jl. Patimura. Dulu di kawasan ini ada sebuah patung prajurit Cina yang membawa tongkat sehingga orang Kediri menyebutnya sebagai "Reco Pentung". Patung ini dulunya milik seorang Tionghoa kaya yang di depan rumahnya ada kolam dan ditengah kolam tersebut ada patung ini. Patung ini sekarang masih ada walau sudah tidak di tengah kolam lagi karena kolamnya sudah berubah jadi toko. Patungnya digeser ke belakang toko, di depan rumah induk yang nampak sekali kekunoannya. Rumah di Jl. Patimura No. 145 ini terakhir kali - yang saya ingat - ditinggali oleh keluarga Bapak Moersijan.

Prapatan Ringinsirah

Kawasan ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan "Prapatan Sri Ratu" karena letaknya persis di timur Pasar Raya Sri Ratu. Tidak jelas mengapa kawasan ini dulu dijuluki "Prapatan Ringinsirah" namun saya pernah memperoleh cerita dari Ibu saya bahwa penyebutan tersebut masih bertalian legenda Maling Gentiri maling budiman yang sakti. Setiap kali ketangkap Kumpeni dan dibunuh selalu hidup lagi. Akhirnya nasib Maling Gentiri sangat tragis karena tubuhnya dimutilasi menjadi tiga bagian dan dikubur secara terpisah untuk menghindari dia hidup lagi. Maka kepalanya dikubur di kawasan Lapangan Joyoboyo dibawah pohon beringin sehingga kawasan ini disebut Ringinsirah.

Prapatan Jam-Jam

Kawasan ini berada di ujung utara Jl. Dhoho yang sekarang lebih sering disebut sebagai "Perempatan BI". Dulu di tengah perempatan ini ada jam besar yang menjadi ciri khas perempatan ini, sehingga orang Kediri menyebut kawasan ini sebagai "Prapatan Jam-Jam".

Prapatan Sumur Bor

Kawasan ini ada di ujung selatan Jl. Dhoho. Di era tahun 60-an di pojok timur perempatan ini, tepatnya sekarang ada di utara pos polisi lalu lintas, ada sebuah sumur artesis yang waktu itu digunakan oleh masyarakat disekelilingnya untuk memenuhi kebutuhan akan air maupun masyarakat yang lalu lalang di Jl. Dhoho. Apalagi dulu di timur kawasan ini ada pasar induk Kediri yang disebut Pasar Panjonan (sekarang Jl. Gunung Sari), keberadaan sumur umum ini sangat membantu. Sumur artesis ini sampai sekarang masih berfungsi dengan baik.

Kandang Macan

Tidak pernah ada kebun binatang di Kota Kediri apalagi sampai memelihara macan, namun ada kawasan yang bernama Kandang Macan di Kota Kediri. Tidak jelas mengapa kawasan ini disebut Kandang Macan, tetapi dulu kawasan ini termasuk kawasan "slum" di Kota Kediri. Kawasan ini tepatnya ada di Jl. Ratulangi di selatan Kantor Pegadaian Kediri. Dulu kawasan ini adalah sebuah lokalisasi PSK liar. Apa karena itu disebut Kandang Macan?

Lemah Geneng

Kawasan ini sebenarnya ada di perbatasan antara Banjaran dan Burengan di Jl. HOS Cokroaminoto, barat toko Sahabat. Disitu ada sebuah punden yang letaknya ada disebuah tanah yang konturnya menjulang tinggi di banding tanah-tanah sekitarnya. Kata "geneng" dalam bahasa Jawa artinya adalah tinggi atau lebih tinggi. Namun kawasan Lemah Geneng lebih menunjuk ke sebuah gang di depan punden ini, yaitu kawasan Pakunden Gg II. Kawasan ini pernah "moncer" tahun 60-an sampai 70-an karena disini adalah lokalisasi PSK sebelum dipindah ke Semampir.

Sumber Ece

Sebelum jalan Tembus Kaliombo ada, daerah tersebut dulunya adalah rawa-rawa. Sehingga apabila masyarakat hendak ke Dusun Tirtoudan maka satu-satunya akses adalah melewati jalan kecil yang menyerong di timur-selatan perempatan "Baruna" saat ini. Jalan kecil itu melintasi sebuah jembatan, sekarang belakang agen bus Harapan Jaya, di seputar jembatan itulah ada sebuah mata air kecil yang disebut "Sumber Ece". Sumber berarti mata air, sedangkan ece  adalah sebutan satuan mata uang rupiah jaman awal-awal kemerdekaan. Mungkin "Sumber Ece" dimaknai sebagai sumber rejeki.

Pasar Gula

Kota Kediri dulu pernah memiliki sebuah pasar yang khusus menjual gula, baik gula pasir, gula batu, maupun gula kelapa. Pasar Gula, demikian dulu masyarakat Kota Kediri menyebut pasar gula dan kawasan di sekelilingnya. Letaknya ada di selatan perempatan Alun-alun kira-kira 50 meter (Jl. Urip Sumoharjo). Pasar tersebut pernah direncanakan pindah ke lapangan Setonobetek (sekarang Pasar Setonobetek) tapi tidak terlaksana. Sekarang Pasar Gula tersebut sudah tidak ada, tapi sebagian masyarakat Kota Kediri masih menyebut kawasan di selatan Alun-alun sebagai Pasar Gula.

SEJARAH KABUPATEN KEDIRI



Nama Kediri ada yang berpendapat berasal dari kata "KEDI" yang artinya "MANDUL" atau "Wanita yang tidak berdatang bulan". Menurut kamus Jawa Kuno Wojo Wasito, 'KEDI" berarti Orang Kebiri Bidan atau Dukun. Di dalam lakon Wayang, Sang Arjuno pernah menyamar Guru Tari di Negara Wirata, bernama "KEDI WRAKANTOLO". Bila kita hubungkan dengan nama tokoh Dewi Kilisuci yang bertapa di Gua Selomangleng, "KEDI" berarti Suci atau Wadad. Disamping itu kata Kediri berasal dari kata "DIRI" yang berarti Adeg, Angdhiri, menghadiri atau menjadi Raja (bahasa Jawa Jumenengan). Untuk itu dapat kita baca pada prasasti "WANUA" tahun 830 saka, yang diantaranya berbunyi : " Ing Saka 706 cetra nasa danami sakla pa ka sa wara, angdhiri rake panaraban", artinya : pada tahun saka 706 atau 734 Masehi, bertahta Raja Pake Panaraban.
Nama Kediri banyak terdapat pada kesusatraan Kuno yang berbahasa Jawa Kuno seperti : Kitab Samaradana, Pararaton, Negara Kertagama dan Kitab Calon Arang. Demikian pula pada beberapa prasasti yang menyebutkan nama Kediri seperti : Prasasti Ceber, berangka tahun 1109 saka yang terletak di Desa Ceker, sekarang Desa Sukoanyar Kecamatan Mojo. Dalam prasasti ini menyebutkan, karena penduduk Ceker berjasa kepada Raja, maka mereka memperoleh hadiah, berupa "Tanah Perdikan". Dalam prasasti itu tertulis "Sri Maharaja Masuk Ri Siminaninaring Bhuwi Kadiri" artinya raja telah kembali kesimanya, atau harapannya di Bhumi Kadiri. Prasasti Kamulan di Desa Kamulan Kabupaten Trenggalek yang berangka tahun 1116 saka, tepatnya menurut Damais tanggal 31 Agustus 1194 Masehi. Pada prasasti itu juga menyebutkan nama Kediri, yang diserang oleh raja dari kerajaan sebelah timur. "Aka ni satru wadwa kala sangke purnowo", sehingga raja meninggalkan istananya di Katangkatang ("tatkala nin kentar sangke kadetwan ring katang-katang deni nkir malr yatik kaprabon sri maharaja siniwi ring bhumi kadiri").
Menurut MM. Sukarto Kartoatmojo menyebutkan bahwa "hari jadi Kediri" muncul pertama kalinya bersumber dari tiga buah prasasti Harinjing A-B-C, namun menurut pendapat beliau nama Kadiri yang paling tepat dimuculkan pada prasasti Harinjing A. Alasannya karena prasasti Harinjing A tercantum tanggal 25 Maret 804 Masehi dinilai usianya lebih tua dari pada kedua prasasti B dan C, yakni tanggal 19 September 921 Masehi dan tanggal 7 Juni 1015 Masehi.
Dilihat dari ketiga tanggal tersebut yang menyebutkan nama Kediri maka dipilih tanggal 25 Maret 804 Masehi tatkala Bagawantabhari memperoleh anugerah tanah perdikan dari Raja Rake Layang Dyah Tulodong yang tertulis di ketiga prasasti Harinjing sebagai pedoman penetapan Hari Jadi Kediri. Nama Kediri semula kecil lalu berkembang menjadi nama Kerajaan Panjalu yang besar dan sejarahnya terkenal hingga sekarang. Selanjutnya ditetapkan surat Keputusan Bupati Kepada Derah Tingkat II Kediri tanggal 22 Januari 1985 nomor 82 tahun 1985 tentang Hari Jadi Kediri, yang pasal 1 berbunyi " Tanggal 25 Maret 804 Masehi ditetapkan menjadi Hari Jadi Kediri".

MENGUKIR KEDIRI LEWAT TANGAN BHAGAWANTA BARI

Mungkin saja Kediri tidak akan tampil dalam panggung sejarah, andaikata Bagawanta Bhari, seorang tokoh spiritual dari belahan Desa Culanggi, tidak mendapatkan penghargaan dari Sri Maharaja Rake Layang Dyah Tuladong. Boleh dikata, pada waktu itu Bagawanta Bhari seperti memperoleh penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha, kalau hal itu terjadi sekarang ini. Atau mungkin seperti memperoleh penghargaan Kalpataru sebagai "Penyelamat Lingkungan". Memang, kiprah teladan Bagawanta Bhari kala itu adalah menyelamatkan lingkungan dari amukan banjir tahunan yang mengancam daerahnya. Ketekunannya yang tanpa pamprih inilah akhirnya menghantarkan dirinya sebagai panutan, sekaligus idola masyarakat kala itu. Ketika itu tidak ada istilah Parasamya atau Kalpataru, namun bagi masyarakat yang berhasil dalam ikut serta memakmurkan negara akan mendapat "ganjaran" seperti Bagawanta Bhari, dirinya juga memperoleh ganjaran itu berupa gelar kehormatan "Wanuta Rama" (ayah yang terhormat atau Kepala Desa) dan tidak dikenakan berbagai macam pajak (Mangilaladrbyahaji) di daerah yang dikuasai Bagawanta Bhari, seperti Culanggi dan kawasan kebikuannya.
Sementara itu daerah seperti wilayah Waruk Sambung dan Wilang, hanya dikenakan "I mas Suwarna" kepada Sri Maharaja setiap bulan "Kesanga" (Centra). Pembebasan atas pajak itu antara lain berupa "Kring Padammaduy" (Iuran Pemadam Kebakaran), "Tapahaji erhaji" (Iuran yang berkaitan dengan air), "Tuhan Tuha Dagang" (Kepala Perdagangan), "Tuha Hujamman" (Ketua Kelompok Masyarakat), "Manghuri" (Pujangga Kraton), "Pakayungan Pakalangkang" (Iuran Lumbung Padi), "Pamanikan" (Iuran Manik-manik, Permata) dan masih banyak pajak lainnya.
Kala itu juga belum ada piagam penghargaan untuknya, maka sebagai peringatan atas jasanya lalu dibuat prasasti sebagai "pangeleng-eleng" (Peringatan). Prasasti itu diberi nama "HARINJING" B" yang bertarikh Masehi 19 September 921 Masehi. Dan disebutlah "Selamat tahun saka telah lampau 843, bulan Asuji, tanggal lima belas paro terang, paringkelan Haryang, Umanis (legi). Budhawara (Hari Rabo), Naksatra (bintang) Uttara Bhadrawada, dewata ahnibudhana, yoga wrsa". Menurut penelitian para ahli Lembaga Javanologi, Drs. M.M. Soekarton Kartoadmodjo, Kediri lahir pada 25 Maret 804 Masehi. Sekitar tahun itulah, Kediri mulai disebut-sebut sebagai nama tempat maupun negara. Belum ada sumber resmi seperti prasasti maupun dokumen tertulis lainnya yang dapat menyebutkan, kapan sebenarnya Kediri ini benar-benar menjadi pusat dari sebuah Pemerintahan. Dari prasasti yang ditemukan kala itu, masih belum ada pemisah wilayah administratif seperti sekarang ini. Yaitu adanya Kabupaten dan Kota Kediri, sehingga peringatan Hari Jadi Kediri yang sekarang ini masih merupakan milik dua wilayah dengan dua kepala wilayah pula.
Menurut para ahli, baik Kadiri maupun Kediri sama-sama berasal dari bahasa Sansekerta, dalam etimologi "Kadiri" disebut sebagai "Kedi" yang artinya "Mandul", tidak berdatang bulan (aprodit). Dalam bahasa Jawa Kuno, "Kedi" juga mempunyai arti "Dikebiri" atau dukun. Menurut Drs. M.M. Soekarton Kartoadmodjo, nama Kediri tidak ada kaitannya dengan "Kedi" maupun tokoh "Rara Kilisuci". Namun berasal dari kata "diri" yang berarti "adeg" (berdiri) yang mendapat awalan "Ka" yang dalam bahasa Jawa Kuno berarti "Menjadi Raja".
Kediri juga dapat berarti mandiri atau berdiri tegak, berkepribadian atau berswasembada. Jadi pendapat yang mengkaitkan Kediri dengan perempuan, apalagi dengan "kedi" kurang beralasan. Menurut Drs. Soepomo Poejo Soedarmo, dalam kamus Melayu, kata "Kediri" dan "Kendiri" sering menggantikan kata sendiri. Perubahan pengucapan "Kadiri" menjadi "Kediri" menurut Drs. Soepomo paling tidak ada dua gejala. Pertama, gejala usia tua dan gejala informalisasi. Hal ini berdasarkan pada kebiasaan dalam rumpun bahasa Austronesia sebelah barat, dimana perubahan seperti tadi sering terjadi.

02 Januari 2009

SEJARAH DAN FAKTA KOTA KEDIRI




Sejarah
Kota ini awalnya berupa sebuah kerajaan, yaitu Kerajaan Kediri. Tapi pada akhirnya dipilah menjadi dua kerajaan, yaitu Kerajaan Jenggala dan Panjalu. Raja Kerajaan Kediri yang terkenal adalah Jayabaya. Raja ini terkenal dengan karyanya yang berupa "Jangka Jayabaya" yang berisi sebuah ramalan-ramalan yang akan terjadi pada negeri ini kelak. Setelah kejayaan tersebut, kerajaan Kediri perlahan-lahan tenggelam dan menurut sejarah, Raja terakhir Kerajaan Kediri adalah Kertajaya, beliau meninggal dalam petempuran di desa Tumapel dalam perlawanan melawan Ken Arok pada 1222. Ken Arok adalah Raja Singosari yang pertama yang wilayahnya menggantikan Kerajaan Kediri. Kediri pada masa Revolusi Kemerdekaan 1945-1949 pernah disinggahi oleh Panglima Besar Jendral Sudirman untuk mengatur strategi perang gerilya. Kediri pun pernah mencatat sejarah yang kelam ketika era pemberontakan G-30 S, di mana banyak penduduk Kediri yang ikut menjadi korbannya.

Geografi
Kota ini berjarak ±128 km dari Surabaya, ibu kota provinsi Jawa Timur. Dari aspek topografi, Kota Kediri terletak pada ketinggian rata-rata 67 m diatas permukaan laut, dengan tingkat kemiringan 0-40%. Struktur wilayah Kota Kediri terbelah menjadi 2 bagian oleh sungai Brantas, yaitu sebelah timur dan barat sungai. Wilayah dataran rendah terletak di bagian timur sungai, meliputi Kec. Kota dan Kec. Pesantren. Sedangkan dataran tinggi terletak pada bagian barat sungai yaitu Kec. Mojoroto, wilayah bagian barat sungai ini merupakan lahan kurang subur yang sebagian masuk kawasan lereng Gunung Klotok (472 m) dan Gunung Maskumambang (300 m).

Secara administratif, Kota Kediri dibagi 3 kecamatan yaitu :
1. Kecamatan Mojoroto (Barat),
2. Kecamatan Kota (Tengah)
3. Kecamatan Pesantren (Timur).

Dan berada di tengah wilayah Kabupaten Kediri dengan batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara : Kec. Gampengrejo dan Kec. Grogol Kabupaten Kediri
Sebelah Selatan : Kec. Kandat, Kec. Ngadiluwih, dan Kec. Ringin Rejo Kab. Kediri
Sebelah Timur : Kec. Wates dan Kec. Gurah Kabupaten Kediri
Sebelah Barat : kec. Grogol dan Kec. Semen Kabupaten Kediri

Luas wilayah Kota Kediri adalah 63,40 km² dengan jumlah penduduk 252.000 (2003) dengan kepadatan rata-rata adalah 3.975 jiwa/km²

Perekonomian
Kota ini berkembang seiring meningkatnya kualitas dalam berbagai aspek. Mulai pendidikan, pariwisata, komplek ruko dan pertokoan, birokrasi pemerintah, hingga olahraga. Di bidang paiwisata, kota ini mempunyai beragam tempat wisata seperti Kolam Renang Pagora,Tirtayasa, Dermaga Jayabaya, Goa Selomangleng,dan Taman Sekartaji. Selain itu kota Kediri juga menawarkan hiburan jalanan seperti yang bisa di jumpai di Jl. Dhoho yang merupakan pusat kota,dan merupakan pusat perbelanjaan pakaian,dimana terdapat banyak pedagang nasi tumpang dan pecel lesehan yang hampir tiap malam dipenuhi oleh masyarakat kediri dari kawula muda sampai tua,yang mencari hiburan di malam hari dengan nuansa kebersamaan. Atau di Taman Sekartaji yang menyediakan berbagai macam makanan dan minuman, merupakan tempat yang nyaman untuk menikmati Kota Kediri di malam hari.Di dekat Taman Sekartaji terdapat bunderan dengan air mancur di tengahnya, di sekitar bunderan ini, di pinggir jalan raya, banyak terdapat penjual jagung bakar yang ramai dikunjungi para kawula muda di akhir pekan.Hal-hal tersebut ditunjang dengan fasilitas-fasilitas penginapan (ada sebuah hotel kelas bintang 3, Grand Surya), pasar swalayan (Sri Ratu,Golden Swalayan, dan Dhoho Plasa,Alun-Alun)dan Kediri Mall yang sedang dibangun, transportasi dan biro wisata. Di bidang pendidikan, kota ini memiliki puluhan sekolah tingkat dasar dan menengah yang salah satunya sudah menyandang SNBI, beberapa perguruan tinggi lokal, Madrasah, hingga pondok-pondok pesantren, seperti Lirboyo, LDII, dan Queen Al-Falah.
Di bawah kepemimpinan Walikota H.A. Maschut, Kota Kediri mengalami berbagai perubahan, misalnya pembangunan mal terbesar, hotel bintang 4 pertama dan kawasan wisata Selomangkleng bertaraf nasional. Maschut juga merencanakan pembangunan jembatan baru, meresmikan pasar grosir pertama di Kota Kediri, merencanakan jalur lingkar luar Kota Kediri ( Simpang Lima Gumul), dan pembangunan berbagai ruko. Perekonomian di Kota ini juga banyak dipengaruhi oleh aktivitas pondok pesantren besar di pusat kota seperti LDII di mana setiap awal bulan selalu mengadakan acara pengajian akbar yang mengundang ribuan anggotanya.
Kota Kediri sempat menerima award sebagai kota yang paling kondusif untuk berinvestasi dari sebuah ajang yang berkaitan dengan pelayanan masyarakat dan kualitas otonomi. Kediri menjadi rujukan para investor yang ingin menanamkan modalnya di kota yang sedang berkembang. Pertumbuhan ekonomi di kota Kediri begitu pesat, hal ini juga didorong oleh sifat konsumtif masyarakat Kediri. Banyaknya perguruan tinggi swasta dan pondok pesantren menarik banyak pendatang yang secara tidak langsung ikut menggairahkan perekonomian kota ini.

Lainnya
Kota Kediri memiliki kuliner dan oleh-oleh khas, seperti stik tahu, tahu takwa (tahu kuning), gethuk pisang, krupuk pasir, nasi sambal tumpang, pecel, bekicot. Kota Kediri mencatat prestasi nasional dengan sukses menyelenggarakan Muktamar NU tahun 1999 dan memboyong piala Liga Indonesia IX & XII tahun 2003 & 2006 melalui klub PERSIK. Mendapat predikat Kota Investasi 2003 versi Jawa Pos dan predikat Kota Sehat Nasional 2005 oleh Menteri Kesehatan. Pesantren LDII yang berada di pusat kota memiliki ciri khas yang unik yaitu memiliki menara setinggi 99 m dengan cungkup yang terbuat dari emas murni berbobot 30 kg yang juga sebagai kebanggan warga Kota Kediri.
Di Kota Kediri terdapat industri rokok domestik baik kategori industri besar maupun industri rumah tangga. Industri rokok besar adalah Perusahaan Rokok Gudang Garam yang merupakan perusahaan rokok terbesar di Indonesia, sekitar 16.000 warga Kediri menggantungkan hidupnya kepada perusahaan ini, selain itu Gudang Garam menyumbangkan pajak dan cukai yang relatif besar terhadap Pemkot Kediri. Kota Kediri saat ini juga sedang mengembangkan industri skala rumah tangga di berbagai jenis industri.

01 Januari 2009

SEJARAH KERAJAAN KEDIRI



Kerajaan Kadiri atau Kerajaan Panjalu, adalah sebuah kerajaan yang terdapat di Jawa Timur antara tahun 1042-1222. Kerajaan ini berpusat di kota Daha, yang terletak di sekitar Kota Kediri sekarang.

Latar Belakang
Sesungguhnya kota Daha sudah ada sebelum Kerajaan Kadiri berdiri. Daha merupakan singkatan dari Dahanapura, yang berarti "kota api". Nama ini terdapat dalam prasasti Pamwatan yang dikeluarkan Airlangga tahun 1042. Hal ini sesuai dengan berita dalam Serat Calon Arang bahwa, saat akhir pemerintahan Airlangga, pusat kerajaan sudah tidak lagi berada di Kahuripan, melainkan pindah ke Daha.

Pada akhir November 1042, Airlangga terpaksa membelah wilayah kerajaannya karena kedua putranya bersaing memperebutkan takhta. Putra yang bernama Sri Samarawijaya mendapatkan kerajaan barat bernama Panjalu yang berpusat di kota baru, yaitu Daha. Sedangkan putra yang bernama Mapanji Garasakan mendapatkan kerajaan timur bernama Janggala yang berpusat di kota lama, yaitu Kahuripan.

Menurut Nagarakretagama, sebelum dibelah menjadi dua, nama kerajaan yang dipimpin Airlangga sudah bernama Panjalu, yang berpusat di Daha. Jadi, Kerajaan Janggala lahir sebagai pecahan dari Panjalu. Adapun Kahuripan adalah nama kota lama yang sudah ditinggalkan Airlangga dan kemudian menjadi ibu kota Janggala.

Pada mulanya, nama Panjalu atau Pangjalu memang lebih sering dipakai dari pada nama Kadiri. Hal ini dapat dijumpai dalam prasasti-prasasti yang diterbitkan oleh raja-raja Kadiri. Bahkan, nama Panjalu juga dikenal sebagai Pu-chia-lung dalam kronik Cina berjudul Ling wai tai ta (1178).

Perkembangan Panjalu
Masa-masa awal Kerajaan Panjalu atau Kadiri tidak banyak diketahui. Prasasti Turun Hyang II (1044) yang diterbitkan Kerajaan Janggala hanya memberitakan adanya perang saudara antara kedua kerajaan sepeninggal Airlangga.

Sejarah Kerajaan Panjalu mulai diketahui dengan adanya prasasti Sirah Keting tahun 1104 atas nama Sri Jayawarsa. Raja-raja sebelum Sri Jayawarsa hanya Sri Samarawijaya yang sudah diketahui, sedangkan urutan raja-raja sesudah Sri Jayawarsa sudah dapat diketahui dengan jelas berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan.

Kerajaan Panjalu di bawah pemerintahan Sri Jayabhaya berhasil menaklukkan Kerajaan Janggala dengan semboyannya yang terkenal dalam prasasti Ngantang (1135), yaitu Panjalu Jayati, atau Panjalu Menang.

Pada masa pemerintahan Sri Jayabhaya inilah, Kerajaan Panjalu mengalami masa kejayaannya. Wilayah kerajaan ini meliputi seluruh Jawa dan beberapa pulau di Nusantara, bahkan sampai mengalahkan pengaruh Kerajaan Sriwijaya di Sumatra.

Hal ini diperkuat kronik Cina berjudul Ling Wai Tai Ta karya Chou Ku-fei tahun 1178, bahwa pada masa itu negeri paling kaya selain Cina secara berurutan adalah Arab, Jawa, dan Sumatra. Saat itu yang berkuasa di Arab adalah Bani Abbasiyah, di Jawa ada Kerajaan Panjalu, sedangkan Sumatra dikuasai Kerajaan Sriwijaya.

Penemuan Situs Tondowongso pada awal tahun 2007, yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Kadiri diharapkan dapat membantu memberikan lebih banyak informasi tentang kerajaan tersebut.

Seni sastra mendapat banyak perhatian pada zaman Kerajaan Panjalu-Kadiri. Pada tahun 1157 Kakawin Bharatayuddha ditulis oleh Mpu Sedah dan diselesaikan oleh Mpu Panuluh. Kitab ini bersumber dari Mahabharata yang berisi kemenangan Pandawa atas Kurawa, sebagai kiasan kemenangan Sri Jayabhaya atas Janggala.

Selain itu, Mpu Panuluh juga menulis Kakawin Hariwangsa dan Ghatotkachasraya. Terdapat pula pujangga zaman pemerintahan Sri Kameswara bernama Mpu Dharmaja yang menulis Kakawin Smaradahana. Kemudian pada zaman pemerintahan Kertajaya terdapat pujangga bernama Mpu Monaguna yang menulis Sumanasantaka dan Mpu Triguna yang menulis Kresnayana.

Runtuhnya Kadiri
Kerajaan Panjalu-Kadiri runtuh pada masa pemerintahan Kertajaya, dan dikisahkan dalam Pararaton dan Nagarakretagama. Pada tahun 1222 Kertajaya sedang berselisih melawan kaum brahmana yang kemudian meminta perlindungan Ken Arok akuwu Tumapel. Kebetulan Ken Arok juga bercita-cita memerdekakan Tumapel yang merupakan daerah bawahan Kadiri. Perang antara Kadiri dan Tumapel terjadi dekat desa Ganter. Pasukan Ken Arok berhasil menghancurkan pasukan Kertajaya. Dengan demikian berakhirlah masa Kerajaan Kadiri, yang sejak saat itu kemudian menjadi bawahan Tumapel atau Singhasari.

Raja-Raja yang Pernah Memerintah Daha
Berikut adalah nama-nama raja yang pernah memerintah di Daha, ibu kota Kadiri:

1. Pada saat Daha menjadi ibu kota kerajaan yang masih utuh
Airlangga, merupakan pendiri kota Daha sebagai pindahan kota Kahuripan. Ketika ia turun takhta tahun 1042, wilayah kerajaan dibelah menjadi dua. Daha kemudian menjadi ibu kota kerajaan bagian barat, yaitu Panjalu. Menurut Nagarakretagama, kerajaan yang dipimpin Airlangga tersebut sebelum dibelah sudah bernama Panjalu.

2. Pada saat Daha menjadi ibu kota Panjalu
(a) Sri Samarawijaya, merupakan putra Airlangga yang namanya ditemukan dalam prasasti Pamwatan (1042).
(b) Sri Jayawarsa, berdasarkan prasasti Sirah Keting (1104). Tidak diketahui dengan pasti apakah ia adalah pengganti langsung Sri Samarawijaya atau bukan.
(c) Sri Bameswara, berdasarkan prasasti Padelegan I (1117), prasasti Panumbangan (1120), dan prasasti Tangkilan (1130).
(d) Sri Jayabhaya, merupakan raja terbesar Panjalu, berdasarkan prasasti Ngantang (1135), prasasti Talan (1136), dan Kakawin Bharatayuddha (1157).
(e) Sri Sarweswara, berdasarkan prasasti Padelegan II (1159) dan prasasti Kahyunan (1161).
(f) Sri Aryeswara, berdasarkan prasasti Angin (1171).
(g) Sri Gandra, berdasarkan prasasti Jaring (1181).
(h) Sri Kameswara, berdasarkan prasasti Ceker (1182) dan Kakawin Smaradahana.
(i) Kertajaya, berdasarkan prasasti Galunggung (1194), Prasasti Kamulan (1194), prasasti Palah (1197), prasasti Wates Kulon (1205), Nagarakretagama, dan Pararaton.

3. Pada saat Daha menjadi bawahan Singhasari
Kerajaan Panjalu runtuh tahun 1222 dan menjadi bawahan Singhasari. Berdasarkan prasasti Mula Malurung, diketahui raja-raja Daha zaman Singhasari, yaitu:
(a) Mahisa Wunga Teleng putra Ken Arok
(b) Guningbhaya adik Mahisa Wunga Teleng
(c) Tohjaya kakak Guningbhaya
(d) Kertanagara cucu Mahisa Wunga Teleng (dari pihak ibu), yang kemudian menjadi raja Singhasari

4. Pada saat Daha menjadi ibu kota Kadiri
Jayakatwang, adalah keturunan Kertajaya yang menjadi bupati Gelang-Gelang. Tahun 1292 ia memberontak hingga menyebabkan runtuhnya Kerajaan Singhasari. Jayakatwang kemudian membangun kembali Kerajaan Kadiri. Tapi pada tahun 1293 ia dikalahkan Raden Wijaya pendiri Majapahit.

5. Pada saat Daha menjadi bawahan Majapahit
Sejak tahun 1293 Daha menjadi negeri bawahan Majapahit yang paling utama. Raja yang memimpin bergelar Bhre Daha tapi hanya bersifat simbol, karena pemerintahan harian dilaksanakan oleh patih Daha. Para pemimpin Daha zaman Majapahit antara lain:
(a) Jayanagara, tahun 1295-1309, didampingi Patih Lembu Sora.
(b) Rajadewi, tahun 1309-1370-an, didampingi Patih Arya Tilam, kemudian Gajah Mada.
(c) Setelah itu, nama-nama pejabat Bhre Daha tidak diketahui dengan pasti.

6. Pada saat Daha menjadi ibu kota Majapahit
Menurut Suma Oriental tulisan Tome Pires, pada tahun 1513 Daha menjadi ibu kota Majapahit yang dipimpin oleh Bhatara Wijaya. Nama raja ini identik dengan Dyah Ranawijaya yang dikalahkan oleh Sultan Trenggana raja Demak tahun 1527.

Sejak saat itu nama Kediri lebih terkenal dari pada Daha.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kadiri


PENGANTAR KATA



Kediri memiliki sejarah yang sangat panjang. Setelah Mataram Hindu runtuh, maka Mpu Sendok berprakarsa untuk mengalihkan kerajaannya ke wilayah timur. Daerah Brebek di Nganjuk adalah pilihan pertamanya, namun kemudian kerajaan itu dialihkan ke daerah Kediri. Sejak itulah pasang surut Kediri dimulai. Namun Kediri telah terukir dalam sejarah Indonesia karena kebudayaan dan peradaban Kediri telah turut membentuk dan mewarnai kebudayaan dan peradaban Indonesia.
Sepanjang sejarahnya, Kediri telah menghasilkan banyak karya-karya kebudayaan yang "adi-luhung". Banyak karya sastra Jawa klasik muncul di jaman Kediri. Kesenian wayang dan gamelan pun banyak diyakini muncul di Kediri. Kalau kita mencermati cerita-cerita yang dilakonkan dalam kesenian Ketoprak, maka kita akan banyak menikmati cerita yang bersumber dari Kediri, seperti Ande-ande Lumut, Calon Arang, Kelono Sewandono, Panji Galuh, Panji Laras dan lain-lain. Bahkan cerita Panji Galuh banyak mewarnai cerita-cerita rakyat di banyak wilayah baik di Indonesia, Malaysia, Thailand maupun Myanmar. Peradaban perdagangan dengan menggunakan mata uang sebagai alat tukar muncul di jaman Kediri.
Namun bagaimana Kediri saat ini, apakah masih bergairah dalam berkebudayaan? Melalui blog yang sederhana ini saya ingin mengingatkan kembali hal-hal yang berkaitan dengan Kediri utamanya yang berkaitan dengan sejarah, kebudayaan, keseniaan, dan pernik-pernik lainnya untuk menggairahkan kebudayaan Kediri di tengah upaya segenap komponen masyarakat Kediri yang sedang bersolek menjadi masyarakat modern.
Tulisan yang saya tampilkan di blog ini saya ambil dari berbagai sumber untuk mengingatkan kita akan sejarah, kebudayaan dan peradaban Kediri. Urun rembug dari pembaca sekalian sangat saya harapkan, agar Kediri tidak kehilangan sejarahnya yang mengagumkan. Terima kasih.

Igor Hannov